PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATRYOSHKA BOX
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATRYOSHKA BOX
SEBAGAI MEDIA CERITA PADA PEMBELAJARAN IPA MATERI
RANTAI MAKANAN KELAS IV
Studi Pada SDN Bancaran 4 Bangkalan)
Elyana Permata Putri 1 , Eva Ari Wahyuni, S.Pd., M.Si2 , Badrud Tamam, S.Si., M.Pd3
1 Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Trunojoyo Madura,
Elyapuss@gmail.com
2 Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Trunojoyo Madura,
Evaariwahyuni@yahoo.com
3 Dosen Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Trunojoyo Madura,
Badrudtamam21@yahoo.com
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Trunojoyo Madura, Bangkalan, PO BOX 2 Kamal 69162
Fkip.Trunojoyo.ac.id
Abstrak
Media pembelajaran merupakan salah satu faktor pendukung keberhasilan proses
pembelajaran. Pada anak usia SD lebih mudah menerima materi jika dalam proses
pembelajaran menggunakan media pembelajaran yang konkret. SDN Bancaran 4 merupakan
salah satu SDN di Kabupaten Bangkalan yang saat mengajarkan materi rantai makanan pada
kelas IV hanya menggunakan buku sebagai media pembelajaran sehingga proses
pembelajaran belum sepenuhnya menarik, efektif dan menyenangkan. Permasalahan tersebut,
menimbulkan keinginan peneliti untuk mengembangkan media pembelajaran yang dapat
menciptakan proses pembelajaran menarik, efektif dan menyenangkan. Penelitian ini
menggunakan model pembelajaran 4D. Tahapan model pembelajaran 4D antara lain: define,
design, development dan disseminate. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh
hasil bahwa persentase kelayakan media pembelajaran matryoshka box menurut ahli bahasa
adalah 85,9% (sangat layak), menurut ahli materi 82,8% (cukup layak) dan menurut ahli
media mencapai 88,6% (sangat layak). Kemenarikan media pembelajaran matryoshka box
mencapai persentase 98,2%. Efektivitas pembelajaran dengan menggunakan media
pembelajaran matryoshka box ditinjau dari segi proses 75% (cukup efektif) dan persentase
aktivitas belajar siswa mencapai 77% (cukup aktif). Hasil belajar pada aspek kognitif
ketuntasan belajar klasikal siswa adalah 100%. Pada aspek afektif nilai rata-rata siswa adalah
90,2 (sangat baik) dan pada aspek psikomotor nilai rata-rata siswa adalah 86,6 (sangat baik).
Kata kunci: Media Pembelajaran, Matryoshka box, IPA, Model Pembelajaran 4D
PENDAHULUAN
Undang-Undang No.14 tahun 2005
tentang Guru dan Dosen Pasal 4
menegaskan bahwa guru sebagai agen
pembelajaran berfungsi untuk
meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Untuk meningkatkan mutu pendidikan,
guru harus menentukan model dan media
pembelajaran yang efektif dan efisien guna
tercapainya tujuan pembelajaran.
Media pembelajaran merupakan
salah satu faktor pendukung keberhasilan
proses pembelajaran. Media pembelajaran
adalah segala sesuatu yang dapat
meyampaikan pesan dan mendorong
terjadinya proses belajar pada peserta
didik.
Piaget dalam Heruman (2012:2)
menyatakan bahwa idealnya, pada proses
pembelajaran, guru seharusnya
menggunakan media pembelajaran sebagai
salah satu penunjang proses pembelajaran.
Siswa SD (6-13 tahun) berada pada fase
operasional konkrit, fase di mana
perkembangan kognitif masih terikat pada
obyek yang konkrit (benda nyata yang
dapat ditangkap panca indra), oleh karena
itu siswa memerlukan alat bantu (alat
peraga) dan media pembelajaran yang
dapat memperjelas materi yang
disampaikan oleh guru.
Salah satu masalah yang dihadapi
dunia pendidikan saat ini adalah lemahnya
pelaksanaan proses pembelajaran yang
diterapkan guru disekolah. Programmme
for International Student Assessment
(PISA) di bawah Organization Economic
Cooperation and Development (OECD)
pada tahun 2012 lalu mengeluarkan survei
bahwa Indonesia menduduki peringkat
paling bawah dari 65 negara, dalam
pemetaan kemampuan matematika,
membaca dan sains. Survei ini
membuktikan bahwa pelaksanaan proses
pembelajaran yang terjadi saat ini kurang
mengembangkan kemampuan berpikir
siswa. Proses pembelajaran hanya
diarahkan pada kemampuan siswa untuk
menghafal materi, dipaksa untuk
mengingat dan menimbun materi
(Adiputri, 2014).
Pendidikan IPA diharapkan dapat
menjadi wahana bagi peserta didik untuk
mempelajari diri sendiri dan alam sekitar
serta menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari. Proses pembelajaran IPA
seharusnya menekankan pada pemberian
pengalaman langsung untuk
mengembangkan kompetensi siswa (Badan
Standar Nasional Pendidikan, 2006:484).
Guru pada pelaksanaan proses
pembelajaran IPA di kelas seharusnya
dapat mengembangkan kemampuan
berpikir siswa dan memberikan
pengalaman belajar secara langsung
melalui penggunaan dan pengembangan
keterampilan proses dan sikap ilmiah.
Penggunaan media pembelajaran pada
pembelajaran IPA merupakan salah satu
cara untuk mengembangkan kemampuan
berpikir siswa.
Proses pembelajaran IPA yang
diterapkan guru di SD belum sepenuhnya
menerapkan proses pembelajaran yang
menarik, efektif dan menyenangkan. Guru
hanya terpaku pada buku teks
pembelajaran sebagai satu-satunya media
pembelajaran sehingga kurang
mengembangkan kemampuan berpikir
kritis siswa dalam pembelajaran. Hal
tersebut juga terjadi pada SDN Bancaran 4
Bangkalan.
SDN Bancaran 4 merupakan salah
satu SDN yang ada di Kabupaten
Bangkalan. Berdasarkan hasil wawancara,
saat mengajarkan materi rantai makanan
pada kelas IV guru hanya menggunakan
buku sebagai media pembelajaran pada
pembelajaran IPA. Penggunaan media
pembelajaran merupakan hal yang sangat
penting dalam proses pembelajaran,
dengan adanya media pembelajaran siswa
dapat berfikir secara konkrit. Adanya
permasalahan tersebut, peneliti
mengembangkan media pembelajaran
yang dapat membantu siswa memahami
materi pembelajaran dengan efektif,
menyenangkan dan dapat memberikan
gambaran konkrit proses terjadinya rantai
makanan, yaitu dengan menggunakan
matryoshka box. Matryoshka box ini
berguna sebagai media cerita pada mata
pelajaran IPA kelas IV materi rantai
makanan.
METODE PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN
Penelitian ini mengembangkan media
pembelajaran matryoshka box sebagai
media cerita anak pada mata pelajaran IPA
kelas IV materi rantai makanan. Penelitian
dilakukan pada SDN Bancaran 4
Bangkalan. Metode penelitian dan
pengembangan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah model pembelajaran
4D dengan 4 tahapan penelitian, yakni:
1. Define
Kegiatan awal yang dilakukan pada
tahapan define adalah melakukan
observasi pada proses pembelajaran di
SDN Bancaran 4 kelas IV pada
pembelajaran IPA. Setelah melakukan
observasi, peneliti melakukan wawancara
pada guru kelas IV untuk menganalisis
karakteristik peserta didik dan untuk
mengetahui bagaimana penggunaan media
pembelajaran pada pembelajaran IPA di
kelas IV. Setelah melakukan observasi dan
wawancara, kegiatan yang dilakukan
selanjutnya adalah menganalisis Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada
pembelajaran IPA kelas IV lalu
menetapkan materi yang akan diajarkan.
Kegiatan akhir yang dilakukan pada
tahapan define adalah menetapkan tujuan
pembelajaran yang harus dikuasai peserta
didik setelah proses pembelajaran.
2. Design
Pada tahapan define, telah ditetapkan
materi dan indikator pembelajaran yang
diharapkan. Pada tahapan design, kegiatan
awal yang dilakukan adalah menyusun
format penilaian hasil belajar. Kegiatan
yang dilakukan selanjutnya adalah
menetapkan media. Penetapan media
pembelajaran yang akan dikembangkan
disesuaikan dengan tujuan dan materi awal
pembelajaran. Setelah menetapkan media,
dilakukan penyusunan strategi
pembelajaran dan teknik penggunaan
media pembelajaran yang sesuai. Pada
tahapan terakhir diperoleh desain awal
media pembelajaran
3. Development
Pada tahapan design diperoleh
desain awal media pembelajaran. Pada
desain awal ini, kemudian dilakukan
validasi oleh ahli. Validasi dilakukan oleh
dua ahli validasi. Validasi awal dilakukan
pada validasi ahli bahasa untuk
memvalidasi cerita yang digunakan, ahli
materi memvalidasi materi, bagaimana
kesesuaian cerita dengan materi yang
dipelajari dan ahli media untuk
memvalidasi desain media pembelajaran.
Setelah divalidasi oleh ahli, diperoleh
revisi desain awal. Revisi desain awal ini
digunakan pada uji coba kelompok kecil.
Uji coba kelompok kecil dilakukan kepada
6 orang siswa SDN Bancaran 4 yang
dipilih secara acak dan memiliki
kemampuan berbeda. 6 orang siswa
diambil dari kelas III, IV dan V. 2 orang
siswa dari kelas III dengan kemampuan
berbeda yang belum pernah mendapatkan
materi rantai makanan, 2 orang siswa dari
kelas IV dengan kemampuan berbeda yang
sedang mempelajari materi rantai makanan
dan 2 orang siswa dari kelas V dengan
kemampuan berbeda yang telah
mempelajari materi rantai makanan.
Berdasarkan uji coba kelompok
kecil, diperoleh perbaikan dari revisi
desain awal yang disebut dengan revisi
produk awal. Setelah melakukan revisi
produk awal, dilakukan uji coba kelompok
besar. Uji coba kelompok besar ini
dilakukan pada siswa kelas IV SDN
Bancaran 4 Bangkalan. Siswa kelas IV
pada SDN Bancaran 4 adalah 32 siswa.
Dalam melakukan uji coba kelompok
besar, jika masih terdapat perbaikan pada
revisi produk awal, maka dilakukan
perbaikan. Perbaikan dilakukan sesuai
dengan kritik dan saran yang diperoleh
dari uji coba kelompok besar, dari
perbaikan yang dilakukan diperoleh
produk akhir. Desain uji coba produk yang
dilakukan sesuai dengan gambar 1.
Gambar 1. Desain Uji Coba Produk
Data yang diperoleh dalam penelitian
ini adalah data kualitatif dan data
kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari
kritik dan saran yang terdapat pada
kuesioner. Data kuantitatif diperoleh dari
hasil validasi, hasil belajar siswa,
kuesioner siswa, lembar observasi siswa
dan lembar observasi guru. Data kualitatif
dianalisis dengan teknik analisis data
kualitatif deskriptif dan data kuantitatif
dianalisis dengan teknik analisis data
statistik deskriptif.
Data hasil validasi ahli dianalisis
dengan rumus (Akbar, 2013:158):
Va=
TSp
TSm
x 100%
Keterangan:
Va = Persentasi validitas oleh ahli
TSp = Total skor yang diperoleh
TSm = Total skor maksimal
Setelah diperoleh skor dari masing-masing
validator, kemudian dilakukan
penghitungan validitas gabungan, skor
kemudian analisis ke dalam rumus (Akbar,
2013:158):
V=
VI+VII
2
Keterangan:
V = Persentasi validitas ahli
VI = Hasil validasi oleh validator I
VII = Hasil validasi oleh validator II
Hasil persentasi validasi ahli kemudian
dikonversikan sesuai dengan tabel 1
sehingga dapat diketahui kelayakan media
yang digunakan dalam pembelajaran,
sesuai dengan kriteria sebagai berikut:
Tabel 1
Kriteria Kelayakan Media
Penilaian hasil belajar individu
siswa dinilai melalui 3 aspek, aspek
kognitif, aspek psikomotor dan aspek
afektif. Aspek kognitif dihitung melalui tes
yang diberikan diakhir proses
pembelajaran. Penilaian hasil belajar
dihitung dengan menggunakan rumus:
Nilai=
Skor yang diperoleh
Skor maksimal
x 100
Dari hasil penilaian kognitif per
individu siswa, lalu dilakukan analisis
untuk mengetahui ketuntasan belajar
klasikal. Siswa dikatakan tuntas apabila
hasil tes siswa mencapai skor 65.
Ketuntasan belajar klasikal dihitung
dengan menggunakan rumus (Imroah,
2013:16):
KBK=
Jumlah siswa yang tuntas
Jumlah siswa yang mengikuti tes
x 100%
Kriteria ketuntasan belajar klasikal
adalah 75% dari jumlah siswa yang
mengikuti tes.
Penilaian juga dilakukan pada aspek
afektif dan psikomotor siswa. Penilaian
individu siswa yang diperoleh dari aspek
afektif dan psikomotor dianalisis dengan
menggunakan rumus (Imroah, 2013:17):
NHB afektif/psikomotor =
Skor yang diperoleh
Skor maksimal
x 100
Keterangan:
NHB: Nilai hasil belajar
Setelah diperoleh hasil penilaian individu
siswa, kemudian dilakukan perhitungan
nilai rata-rata. Nilai rata-rata dianalasis
dengan menggunakan rumus:
Nr afektif/psikomotor =
Total nilai seluruh siswa
Jumlah siswa
Keterangan:
Nr: Nilai rata-rata
Nilai rata-rata yang diperoleh kemudian
dikonversikan pada tabel 2, sehingga
diketahui perolehan nilai pada aspek
afektif dan aspek psikomotor.
Tabel 2
Kriteria Penilaian
Saat penerapan media pembelajaran
matryoshka box dilakukan, guru
melakukan observasi. Observasi dilakukan
untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa
yang terjadi saat proses pembelajaran
berlangsung. Observasi ini sesuai dengan
lembar kuesioner yang diberikan. Hasil
kuesioner dianalisis dengan menggunakan
rumus (Akbar, 2013:82):
Vo=
TSp
TSm
x 100%
Keterangan:
Vo = Persentasi validitas oleh observer
TSp = Total skor yang diperoleh
TSm = Total skor maksimal
Setelah diperoleh hasil persentasi, hasil
persentasi kemudian dikonversikan pada
tabel 3 untuk mengetahui efektivitas
pembelajaran saat media pembelajaran
matryoshka box diterapkan.
Tabel 3
Kriteria Efektivitas Pembelajaran
Sumber data diperoleh dari lembar
kuesioner yang diberikan kepada siswa.
Lembar kuesioner diberikan kepada siswa
setelah mengikuti pembelajaran dengan
menerapkan media pembelajaran
matryoshka box. Kuesioner siswa
digunakan untuk mengetahui kemenarikan
media pembelajaran matryoshka box. Data
kemudian dianalisis dengan menggunakan
rumus (Akbar, 2013: 158):
Km=
TSp
TSm
x 100%
Keterangan:
Km = Persentasi kemenarikan media
TSp = Total skor yang diperoleh
TSm = Total skor maksimal
Hasil analisis kemudian
dikonversikan pada tabel 4 Sehingga
diketahui kriteria kemenarikan media
pembelajaran matryoshka box.
Tabel 4
Kriteria Kemenarikan Media Pembelajaran
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Secara umum penelitian dan
pengembangan media pembelajaran
matryoshka box, menggunakan model
pembelajaran 4D terdiri dari 4 tahap, yaitu:
define, design, development dan
disseminate, namun pada penelitian dan
pengembangan media pembelajaran
matryoshka box sampai pada tahapan
development. Penelitian dan
pengembangan ini mengembangkan
sebuah media pembelajaran pada proses
pembelajaran IPA. Media pembelajaran
adalah segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk menyalurkan pesan dan
merangsang terjadinya proses
pembelajaran sedangkan IPA merupakan
ilmu yang berhubungan dengan gejala
alam dan kebendaan yang sistematis yang
tersusun secara teratur, berlaku umum
yang berupa kumpulan dari hasil
obeservasi dan eksperimen. Sehingga
penggunaan media pembelajaran dalam
proses pembelajaran akan memperbanyak
pengalaman belajar siswa, membuat siswa
menjadi tidak bosan, dan memberikan
pengalaman yang menarik kepada siswa
oleh karena itu dalam proses pembelajaran
IPA guru perlu menggunakan media
pembelajaran. Media pembelajaran yang
dikembangkan dalam penelitian ini adalah
media pembelajaran matryoshka box.
Media pembelajaran matryoshka box
adalah media cerita anak yang
menjelaskan bagaimana proses terjadinya
rantai makanan pada pembelajaran IPA
kelas IV.
Penelitian dan pengembangan media
pembelajaran matryoshka box dilakukan di
SDN Bancaran 4 kelas IV. Berdasarkan
hasil penelitian, didapatkan pengembangan
media pembelajaran matryoshka box dan
efektivitas media pembelajaran
matryoshka box dalam proses
pembelajaran. Hasil penelitian dan
pengembangan media matryoshka box
dijabarkan sebagai berikut:
Pengembangan Media Pembelajaran
Matryoshka box
Pengembangan media pembelajaran
matryoshka box terinspirasi dari boneka
matryoshka. Boneka matryoshka berasal
dari perpaduan tradisi pembuatan boneka
yang mewakili dewa Fukurojuku di Jepang
dengan tradisi pembuatan telur paskah dari
kayu ala Russian. Boneka matryoshka
memiliki ruang di dalamnya sehingga
dapat diisi dengan boneka matryoshka
lainnya yang berukuran lebih kecil. Hal ini
berulang hingga beberapa matryoshka
yang ukurannya lebih kecil dapat disimpan
pada setiap matryoshka yang lebih besar
dan begitu hingga menjadi satu kesatuan.
Bentuk boneka matryoshka inilah yang
menginspirasi pengembangan media
pembelajaran matryoshka box. Media
pembelajaran matryoshka box merupakan
media pembelajaran yang berbentuk box
yang memiliki ruang sehingga dapat diisi
dengan box lainnya yang berukuran lebih
kecil. Media pembelajaran matryoshka box
adalah media cerita yang menjelaskan
materi rantai makanan. Cerita yang
digunakan merupakan cerita fabel.
Berdasarkan cerita yang disampaikan,
siswa dapat melihat bagaimana proses
terjadinya rantai makanan. Matryoshka
box terbuat dari karton tebal yang dilapisi
dengan kain flannel yang kemudian
ditempelkan gambar pada bagian depan
box. Matryoshka box terdiri dari beberapa
box, box tersebut antara lain:
a. Box besar I merupakan box rumah pak
rudi. Box besar I berisi box yang
berperan sebagai pak rudi, box yang
lebih kecil dari box pak rudi merupakan
box susu dan di dalalm box susu berisi
box telur.
b. Box besar II merupakan box kandang
pak rudi. Box kandang Pak Rudi berisi
box yang berperan sebagai kambing
(ambi) dan box yang berperan sebagai
ayam (aya).
c. Box besar III adalah box rumput. Box
besar III berisi 2 box kecil yang berperan
sebagai rumput dan box yang berperan
sebagai ulat.
d. Box keempat adalah box yang berperan
sebagai singa.
e. Box kambing II sebagai hewan peliharan
baru Pak Rudi.
Berdasarkan cerita, Pak Rudi
meminum susu yang dihasilkan oleh
kambing dan memakan telur yang
dihasilkan oleh ayam, kemudian ulat yang
berada kebun Pak Rudi memakan rumput
yang ada di kebun, setelah itu ulat
dimakan oleh ayam. Ayam yang sedang
tertidur kemudian dimakan oleh singa.
Terjadinya hubungan makan dan dimakan
antara rumput, ulat, ayam dan singa
merupakan salah satu contoh dari rantai
makanan. Rantai makanan merupakan
materi yang diajarkan di tingkat SD kelas
IV. Pengembangan media pembelajaran
matryoshka box ini bertujuan untuk
memberikan gambaran konkrit proses
terjadinya rantai makanan melalui cerita
anak. Berdasarkan lembar validasi ahli
bahasa, cerita yang digunakan sesuai
dengan perkembangan sosial emosional
siswa SD. Cerita yang digunakan termasuk
pada cerita fabel. Cerita fabel adalah
dongeng yang menggambarkan watak dan
budi pekerti yang diibaratkan oleh hewan.
Berdasarkan hasil validasi yang
diperoleh dari ahli bahasa, persentase
validitas pada segi bahasa mencapai 85,9%
(Sangat Layak).
Validasi juga dilakukan pada ahli
materi. Validasi ahli materi dilakukan
untuk mengetahui bagaimana kesesuaian
cerita dengan materi rantai makanan. Pada
penyerahan lembar validasi oleh ahli
materi dilampirkan RPP, cerita dan materi
yang akan disampaikan. Materi rantai
makanan yang disampaikan sesuai dengan
SK nomor 5. Memahami hubungan sesama
makhluk hidup dan antara makhluk hidup
dengan lingkungannya dan sesuai dengan
KD nomor 5.1 Mengidentifikasi beberapa
jenis hubungan khas (simbiosis) dan
hubungan “makan dan dimakan” antar
makhluk hidup (rantai makanan). Materi
dijelaskan dengan alokasi waktu 2 x jam
pelajaran. Setiap jam terdiri dari 35 menit,
sehingga waktu yang digunakan adalah 70
menit. Hasil validitas gabungan yang
diperoleh dari ahli materi adalah 82,8%
(Cukup Layak), sehingga diketahui bahwa
cerita yang digunakan pada media
pembelajaran matryoshka box cukup layak
dan cukup sesuai dengan materi rantai
makanan.
Sedangkan pada validasi yang
dilakukan pada ahli media digunakan
untuk mengetahui kelayakan media yang
dikembangkan. Hasil validasi yang
dilakukan oleh ahli media dijabarkan
sebagai berikut:
a. Media pembelajaran matryoshka box
merupakan media pembelajaran yang
kreatif, inovatif dan memiliki
keunggulan dari media pembelajaran
konvensional karena media
pembelajaran matryoshka box dapat
melibatkan siswa dalam proses
pembelajaran, sehingga siswa juga
terlibat aktif menggali pengetahuannya
sendiri.
b. Media pembelajaran matryoshka box
dapat digunakan dalam waktu yang lama
sehingga dapat meminimalisir
penggunaan biaya dan waktu karena
guru dapat menggunakan matryoshka
box berkali-kali.
c. Media pembelajaran matryoshka box
dapat dengan mudah digunakan oleh
guru karena media pembelajaran
matryoshka box dilengkapi dengan buku
petunjuk penggunaan buku yang dapat
membantu guru dalam menggunakan
media pembelajaran matryoshka box.
d. Media pembelajaran matryoshka box
dapat meningkatkan motivasi belajar,
e. Media pembelajaran matryoshka box
dapat menarik perhatian siswa
Berdasarkan hasil kuesioner siswa,
persentase rata-rata kemenarikan media
pada uji coba kelompok besar sebesar
98,2% (Sangat Menarik) sehingga dapat
disimpulkan bahwa media pembelajaran
matryoshka box merupakan media
pembelajaran yang sangat menarik dan
membantu siswa memahami materi
pembelajaran.
Media pembelajaran matryoshka box
merupakan media pembelajaran yang
menarik dikarenakan:
a. Media pembelajaran matryoshka box
berbentuk box bersarang yang unik. Pada
box paling kecil merupakan box rumput.
Box rumput dimasukkan ke dalam box
ulat. Box ulat dimasukkan kedalalam box
ayam. Box ayam dimasukkan kedalam
box singa, sehingga dapat diketahui
dengan jelas proses terjadinya rantai
makanan.
b. Media pembelajaran matryoshka box
dilengkapi dengan cerita yang menarik
dan sekaligus menggambarkan proses
terjadinya rantai makanan.
c. Media pembelajaran harus memiliki
nilai ekstetika sehingga media dapat
menarik perhatian siswa. Berdasarkan
lembar kuesioner siswa diketahui bahwa
siswa suka dengan bentuk dan gambar
yang ada dalam media pembelajaran
matryoshka box dan menyatakan bahwa
media pembelajaran maryoshka box
merupakan media pembelajaran yang
menarik, hal ini dikarenakan media
pembelajaran matryoshka box dilapisi
kain flannel dan dilengkapi oleh gambar
nyata para tokoh cerita.
Berdasarkan hasil validasi oleh ahli
dan keusioner kemenarikan media,
diketahui bahwa kelebihan media
pembelajaran matryoshka box dibanding
dengan media pembelajaran konvensional
adalah:
a. Dapat membantu guru untuk
menyampaikan materi rantai makanan
agar tidak terlalu verbalistis
b. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu
dan tempat karena media pembelajaran
matryoshka box memberikan gambaran
konkrit terjadinya proses rantai makanan
melalui cerita yang disampaikan
c. Media pembelajaran matryoshka box
dilengkapi dengan cerita yang menarik
yang sekaligus terdapat materi rantai
makanan
d. Berdasarkan lembar kuesioner yang
diberikan kepada siswa setelah proses
pembelajaran, media pembelajaran
matryoshka box dapat meningkatkan
motivasi belajar siswa
e. Memberikan pengalaman belajar yang
efektif sekaligus menyenangkan
f. Memudahkan siswa untuk memahami
materi rantai makanan
g. Merupakan media pembelajaran yang
menarik
h. Dapat digunakan dalam waktu yang
cukup lama
Di samping kelebihan, media
pembelajaran matryoshka box juga
memiliki kekurangan. Kekurangan dari
media pembelajaran matryoshka box
adalah cerita yang digunakan kurang
bervariasi, hanya terdapat 1 cerita pada
petunjuk penggunaan buku dan hanya bisa
menyampaikan materi rantai makanan.
Efektivitas Pembelajaran dengan
Menggunakan Media Pembelajaran
Matryoshka Box
Efektivitas pembelajaran dapat
diketahui dari segi proses dan segi hasil
belajar. Pada segi proses pembelajaran
dapat diketahui melalui lembar observasi
guru dan lembar observasi siswa. Pada
segi hasil belajar dapat ditinjau melalui 3
aspek utama, yaitu aspek kognitif, afektif
dan psikomotor.
Proses Pembelajaran
Hasil dari lembar observasi guru
mencapai persentase 75% (Cukup Efektif)
dan pada lembar observasi siswa mencapai
persentase 77,6% (Cukup Aktif).
Efektivitas pembelajaran dengan
menggunakan media pembelajaran
matryoshka box dari segi proses
pembelajaran masuk pada kriteria cukup
efektif dikarenakan:
1. Media pembelajaran matryoshka box
merupakan media yang dapat dengan
mudah digunakan oleh guru.
2. Siswa aktif dalam proses pembelajaran
dan terbentuk interaksi positif antar
siswa dan interaksi positif antar siswa
dengan guru.
3. Media pembelajaran matryoshka box
dapat membentuk interaksi positif antara
siswa dengan media pembelajaran dan
siswa tertarik dengan materi yang
disajikan dengan media pembelajaran
sekaligus terlibat dalam pemanfaatan
media pembelajaran
4. Media pembelajaran matryoshka box
dapat membantu siswa mengutarakan
pendapatnya dengan baik
5. Siswa merasa senang saat proses
pembelajaran berlangsung sehingga
siswa motivasi dalam belajar materi
rantai makanan.
Hasil Belajar
Penilaian hasil belajar meliputi aspek
kognitif, afektif dan psikomotor. Pada
penilaian kognitif, jumlah soal tes yang
diukikan kepada siswa sebanyak 3 soal.
Ketuntasan belajar klasikal pada uji coba
kelompok besar mencapai persentase
100%.
Penilaian pada aspek afektif
bertujuan untuk mengetahui sikap siswa
dalam proses pembelajaran. Penilaian pada
aspek afektif didasarkan pada sikap
percaya diri, displin dan menghargai. Pada
uji coba kelompok besar, nilai rata-rata
siswa adalah 90,2 yang termasuk pada
kategori SB (Sangat Baik).
Penilaian pada aspek psikomotor
diperoleh dari hasil diskusi kelompok
siswa. Pada uji coba kelompok besar, nilai
rata-rata yang diperoleh oleh siswa juga
menunjukkan nilai 86,6 yang termasuk
kategori SB (Sangat Baik).
SIMPULAN
Produk yang dikembangkan pada
penelitian dan pengembangan ini adalah
media pembelajaran matryoshka box.
Penelitian dan pengembangan media
pembelajaran matryoshka box
dikembangkan berdasarkan langkahlangkah
pengembangan model
pembelajaran 4D. Langkah-langkah
pengembangan model 4D media
pembelajaran terdiri dari 4 tahap, tahap
tersebut antara lain: define, design,
development dan disseminate, namun pada
penelitian dan pengembangan media
pembelajaran matryoshka box penelitian
dilakukan sampai pada tahapan
development.
Media pembelajaran matryoshka box
merupakan media pembelajaran dalam
bentuk media cerita yang membantu siswa
memahami materi rantai rantai makanan
kelas IV pada pembelajaran IPA. Media
pembelajaran matryoshka box berbentuk
box yang terbuat dari kertas karton tebal
yang dibagian luar dilapisi oleh kain
flannel. Di bagian depan box terdapat
gambar karakter hewan yang merupakan
tokoh dalam cerita. Media pembelajaran
matryoshka box dilengkapi dengan cerita,
petunjuk penggunaan buku dan namanama
hewan.
Saran yang diberikan peneliti antara lain:
a. Guru harus menguasai media
pembelajaran matryoshka box.
b. Media pembelajaran matryoshka box
dapat digunakan dengan model
pembelajaran yang berbeda.
c. Memastikan ketersediaan media
pembelajaran matryoshka box, karena
media pembelajaran dibuat secara
handmade sehingga membutuhkan
waktu yang cukup lama
d. Memberikan dan menjelaskan
penggunaan media pembelajaran
matryoshka box.
e. Jika terdapat peneliti lain yang ingin
mengembangkan media pembelajaran
matryoshka box hendaknya dapat
mendesain media pembelajaran
matryoshka box dapat menjelaskan
materi pembelajaran tidak hanya pada
materi rantai makanan tetapi juga dapat
menjelaskan materi pembelajaran yang
berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Adiputri, Novi Chistiastuti. 2014. “RI Terendah di
PISA, WNA: Indonesian Kids Don’t Know
How Stupid They Are”. (Online),
(http://news.detik.com/read/2014/02/08/153
124/2491125/10/ri-terendah-di-pisa-wnaindonesian-
kids-dont-know-how-stupidthey-
are), diakses tanggal 8 Februari 2014.
Akbar, Sa’dun. 2013. Instrumen Perangkat
Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosda
Karya.
Akbar, Sa’dun. 2013. Instrumen Perangkat
Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosda
Karya.
Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Standar
Isi Tingkat SD/MI. Jakarta: Depdiknas.
Heruman. 2012. Model Pembelajaran Matematika.
Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Imroah, Siti. 2013. Pemanfaatan Laboratorium
untuk Pembelajaran Biologi di MA Al-Ansor
Gunungpati Semarang. Skripsi. Universitas
Negeri Semarang.
Ratnawati. Endang Sri. 2009. Pemanfaatan Media
Pembelajaran Benda Konkrit untuk
Meningkatkan Hasil Belajar IPA Kelas III
SDN Ketangirejo I Kecamatan Kejayaan
Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Universitas
Negeri Malang.
Ratnawati. Endang Sri. 2009. Pemanfaatan Media
Pembelajaran Benda Konkrit untuk
Meningkatkan Hasil Belajar IPA Kelas III
SDN Ketangirejo I Kecamatan Kejayaan
Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Universitas
Negeri Malang.
Ulfa, Dewi Amaliya. 2015. Pengaruh Penerapan
Pembelajaran Tematik Integratif Model
Konsiderasi Pada Mata Pelajaran Pkn
Kelas IV SD Terhadap Sikap Peduli
Lingkungan. Skripsi. Universitas Trunojoyo
Madura.
SEBAGAI MEDIA CERITA PADA PEMBELAJARAN IPA MATERI
RANTAI MAKANAN KELAS IV
Studi Pada SDN Bancaran 4 Bangkalan)
Elyana Permata Putri 1 , Eva Ari Wahyuni, S.Pd., M.Si2 , Badrud Tamam, S.Si., M.Pd3
1 Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Trunojoyo Madura,
Elyapuss@gmail.com
2 Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Trunojoyo Madura,
Evaariwahyuni@yahoo.com
3 Dosen Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Trunojoyo Madura,
Badrudtamam21@yahoo.com
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Trunojoyo Madura, Bangkalan, PO BOX 2 Kamal 69162
Fkip.Trunojoyo.ac.id
Abstrak
Media pembelajaran merupakan salah satu faktor pendukung keberhasilan proses
pembelajaran. Pada anak usia SD lebih mudah menerima materi jika dalam proses
pembelajaran menggunakan media pembelajaran yang konkret. SDN Bancaran 4 merupakan
salah satu SDN di Kabupaten Bangkalan yang saat mengajarkan materi rantai makanan pada
kelas IV hanya menggunakan buku sebagai media pembelajaran sehingga proses
pembelajaran belum sepenuhnya menarik, efektif dan menyenangkan. Permasalahan tersebut,
menimbulkan keinginan peneliti untuk mengembangkan media pembelajaran yang dapat
menciptakan proses pembelajaran menarik, efektif dan menyenangkan. Penelitian ini
menggunakan model pembelajaran 4D. Tahapan model pembelajaran 4D antara lain: define,
design, development dan disseminate. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh
hasil bahwa persentase kelayakan media pembelajaran matryoshka box menurut ahli bahasa
adalah 85,9% (sangat layak), menurut ahli materi 82,8% (cukup layak) dan menurut ahli
media mencapai 88,6% (sangat layak). Kemenarikan media pembelajaran matryoshka box
mencapai persentase 98,2%. Efektivitas pembelajaran dengan menggunakan media
pembelajaran matryoshka box ditinjau dari segi proses 75% (cukup efektif) dan persentase
aktivitas belajar siswa mencapai 77% (cukup aktif). Hasil belajar pada aspek kognitif
ketuntasan belajar klasikal siswa adalah 100%. Pada aspek afektif nilai rata-rata siswa adalah
90,2 (sangat baik) dan pada aspek psikomotor nilai rata-rata siswa adalah 86,6 (sangat baik).
Kata kunci: Media Pembelajaran, Matryoshka box, IPA, Model Pembelajaran 4D
PENDAHULUAN
Undang-Undang No.14 tahun 2005
tentang Guru dan Dosen Pasal 4
menegaskan bahwa guru sebagai agen
pembelajaran berfungsi untuk
meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Untuk meningkatkan mutu pendidikan,
guru harus menentukan model dan media
pembelajaran yang efektif dan efisien guna
tercapainya tujuan pembelajaran.
Media pembelajaran merupakan
salah satu faktor pendukung keberhasilan
proses pembelajaran. Media pembelajaran
adalah segala sesuatu yang dapat
meyampaikan pesan dan mendorong
terjadinya proses belajar pada peserta
didik.
Piaget dalam Heruman (2012:2)
menyatakan bahwa idealnya, pada proses
pembelajaran, guru seharusnya
menggunakan media pembelajaran sebagai
salah satu penunjang proses pembelajaran.
Siswa SD (6-13 tahun) berada pada fase
operasional konkrit, fase di mana
perkembangan kognitif masih terikat pada
obyek yang konkrit (benda nyata yang
dapat ditangkap panca indra), oleh karena
itu siswa memerlukan alat bantu (alat
peraga) dan media pembelajaran yang
dapat memperjelas materi yang
disampaikan oleh guru.
Salah satu masalah yang dihadapi
dunia pendidikan saat ini adalah lemahnya
pelaksanaan proses pembelajaran yang
diterapkan guru disekolah. Programmme
for International Student Assessment
(PISA) di bawah Organization Economic
Cooperation and Development (OECD)
pada tahun 2012 lalu mengeluarkan survei
bahwa Indonesia menduduki peringkat
paling bawah dari 65 negara, dalam
pemetaan kemampuan matematika,
membaca dan sains. Survei ini
membuktikan bahwa pelaksanaan proses
pembelajaran yang terjadi saat ini kurang
mengembangkan kemampuan berpikir
siswa. Proses pembelajaran hanya
diarahkan pada kemampuan siswa untuk
menghafal materi, dipaksa untuk
mengingat dan menimbun materi
(Adiputri, 2014).
Pendidikan IPA diharapkan dapat
menjadi wahana bagi peserta didik untuk
mempelajari diri sendiri dan alam sekitar
serta menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari. Proses pembelajaran IPA
seharusnya menekankan pada pemberian
pengalaman langsung untuk
mengembangkan kompetensi siswa (Badan
Standar Nasional Pendidikan, 2006:484).
Guru pada pelaksanaan proses
pembelajaran IPA di kelas seharusnya
dapat mengembangkan kemampuan
berpikir siswa dan memberikan
pengalaman belajar secara langsung
melalui penggunaan dan pengembangan
keterampilan proses dan sikap ilmiah.
Penggunaan media pembelajaran pada
pembelajaran IPA merupakan salah satu
cara untuk mengembangkan kemampuan
berpikir siswa.
Proses pembelajaran IPA yang
diterapkan guru di SD belum sepenuhnya
menerapkan proses pembelajaran yang
menarik, efektif dan menyenangkan. Guru
hanya terpaku pada buku teks
pembelajaran sebagai satu-satunya media
pembelajaran sehingga kurang
mengembangkan kemampuan berpikir
kritis siswa dalam pembelajaran. Hal
tersebut juga terjadi pada SDN Bancaran 4
Bangkalan.
SDN Bancaran 4 merupakan salah
satu SDN yang ada di Kabupaten
Bangkalan. Berdasarkan hasil wawancara,
saat mengajarkan materi rantai makanan
pada kelas IV guru hanya menggunakan
buku sebagai media pembelajaran pada
pembelajaran IPA. Penggunaan media
pembelajaran merupakan hal yang sangat
penting dalam proses pembelajaran,
dengan adanya media pembelajaran siswa
dapat berfikir secara konkrit. Adanya
permasalahan tersebut, peneliti
mengembangkan media pembelajaran
yang dapat membantu siswa memahami
materi pembelajaran dengan efektif,
menyenangkan dan dapat memberikan
gambaran konkrit proses terjadinya rantai
makanan, yaitu dengan menggunakan
matryoshka box. Matryoshka box ini
berguna sebagai media cerita pada mata
pelajaran IPA kelas IV materi rantai
makanan.
METODE PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN
Penelitian ini mengembangkan media
pembelajaran matryoshka box sebagai
media cerita anak pada mata pelajaran IPA
kelas IV materi rantai makanan. Penelitian
dilakukan pada SDN Bancaran 4
Bangkalan. Metode penelitian dan
pengembangan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah model pembelajaran
4D dengan 4 tahapan penelitian, yakni:
1. Define
Kegiatan awal yang dilakukan pada
tahapan define adalah melakukan
observasi pada proses pembelajaran di
SDN Bancaran 4 kelas IV pada
pembelajaran IPA. Setelah melakukan
observasi, peneliti melakukan wawancara
pada guru kelas IV untuk menganalisis
karakteristik peserta didik dan untuk
mengetahui bagaimana penggunaan media
pembelajaran pada pembelajaran IPA di
kelas IV. Setelah melakukan observasi dan
wawancara, kegiatan yang dilakukan
selanjutnya adalah menganalisis Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada
pembelajaran IPA kelas IV lalu
menetapkan materi yang akan diajarkan.
Kegiatan akhir yang dilakukan pada
tahapan define adalah menetapkan tujuan
pembelajaran yang harus dikuasai peserta
didik setelah proses pembelajaran.
2. Design
Pada tahapan define, telah ditetapkan
materi dan indikator pembelajaran yang
diharapkan. Pada tahapan design, kegiatan
awal yang dilakukan adalah menyusun
format penilaian hasil belajar. Kegiatan
yang dilakukan selanjutnya adalah
menetapkan media. Penetapan media
pembelajaran yang akan dikembangkan
disesuaikan dengan tujuan dan materi awal
pembelajaran. Setelah menetapkan media,
dilakukan penyusunan strategi
pembelajaran dan teknik penggunaan
media pembelajaran yang sesuai. Pada
tahapan terakhir diperoleh desain awal
media pembelajaran
3. Development
Pada tahapan design diperoleh
desain awal media pembelajaran. Pada
desain awal ini, kemudian dilakukan
validasi oleh ahli. Validasi dilakukan oleh
dua ahli validasi. Validasi awal dilakukan
pada validasi ahli bahasa untuk
memvalidasi cerita yang digunakan, ahli
materi memvalidasi materi, bagaimana
kesesuaian cerita dengan materi yang
dipelajari dan ahli media untuk
memvalidasi desain media pembelajaran.
Setelah divalidasi oleh ahli, diperoleh
revisi desain awal. Revisi desain awal ini
digunakan pada uji coba kelompok kecil.
Uji coba kelompok kecil dilakukan kepada
6 orang siswa SDN Bancaran 4 yang
dipilih secara acak dan memiliki
kemampuan berbeda. 6 orang siswa
diambil dari kelas III, IV dan V. 2 orang
siswa dari kelas III dengan kemampuan
berbeda yang belum pernah mendapatkan
materi rantai makanan, 2 orang siswa dari
kelas IV dengan kemampuan berbeda yang
sedang mempelajari materi rantai makanan
dan 2 orang siswa dari kelas V dengan
kemampuan berbeda yang telah
mempelajari materi rantai makanan.
Berdasarkan uji coba kelompok
kecil, diperoleh perbaikan dari revisi
desain awal yang disebut dengan revisi
produk awal. Setelah melakukan revisi
produk awal, dilakukan uji coba kelompok
besar. Uji coba kelompok besar ini
dilakukan pada siswa kelas IV SDN
Bancaran 4 Bangkalan. Siswa kelas IV
pada SDN Bancaran 4 adalah 32 siswa.
Dalam melakukan uji coba kelompok
besar, jika masih terdapat perbaikan pada
revisi produk awal, maka dilakukan
perbaikan. Perbaikan dilakukan sesuai
dengan kritik dan saran yang diperoleh
dari uji coba kelompok besar, dari
perbaikan yang dilakukan diperoleh
produk akhir. Desain uji coba produk yang
dilakukan sesuai dengan gambar 1.
Gambar 1. Desain Uji Coba Produk
Data yang diperoleh dalam penelitian
ini adalah data kualitatif dan data
kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari
kritik dan saran yang terdapat pada
kuesioner. Data kuantitatif diperoleh dari
hasil validasi, hasil belajar siswa,
kuesioner siswa, lembar observasi siswa
dan lembar observasi guru. Data kualitatif
dianalisis dengan teknik analisis data
kualitatif deskriptif dan data kuantitatif
dianalisis dengan teknik analisis data
statistik deskriptif.
Data hasil validasi ahli dianalisis
dengan rumus (Akbar, 2013:158):
Va=
TSp
TSm
x 100%
Keterangan:
Va = Persentasi validitas oleh ahli
TSp = Total skor yang diperoleh
TSm = Total skor maksimal
Setelah diperoleh skor dari masing-masing
validator, kemudian dilakukan
penghitungan validitas gabungan, skor
kemudian analisis ke dalam rumus (Akbar,
2013:158):
V=
VI+VII
2
Keterangan:
V = Persentasi validitas ahli
VI = Hasil validasi oleh validator I
VII = Hasil validasi oleh validator II
Hasil persentasi validasi ahli kemudian
dikonversikan sesuai dengan tabel 1
sehingga dapat diketahui kelayakan media
yang digunakan dalam pembelajaran,
sesuai dengan kriteria sebagai berikut:
Tabel 1
Kriteria Kelayakan Media
Penilaian hasil belajar individu
siswa dinilai melalui 3 aspek, aspek
kognitif, aspek psikomotor dan aspek
afektif. Aspek kognitif dihitung melalui tes
yang diberikan diakhir proses
pembelajaran. Penilaian hasil belajar
dihitung dengan menggunakan rumus:
Nilai=
Skor yang diperoleh
Skor maksimal
x 100
Dari hasil penilaian kognitif per
individu siswa, lalu dilakukan analisis
untuk mengetahui ketuntasan belajar
klasikal. Siswa dikatakan tuntas apabila
hasil tes siswa mencapai skor 65.
Ketuntasan belajar klasikal dihitung
dengan menggunakan rumus (Imroah,
2013:16):
KBK=
Jumlah siswa yang tuntas
Jumlah siswa yang mengikuti tes
x 100%
Kriteria ketuntasan belajar klasikal
adalah 75% dari jumlah siswa yang
mengikuti tes.
Penilaian juga dilakukan pada aspek
afektif dan psikomotor siswa. Penilaian
individu siswa yang diperoleh dari aspek
afektif dan psikomotor dianalisis dengan
menggunakan rumus (Imroah, 2013:17):
NHB afektif/psikomotor =
Skor yang diperoleh
Skor maksimal
x 100
Keterangan:
NHB: Nilai hasil belajar
Setelah diperoleh hasil penilaian individu
siswa, kemudian dilakukan perhitungan
nilai rata-rata. Nilai rata-rata dianalasis
dengan menggunakan rumus:
Nr afektif/psikomotor =
Total nilai seluruh siswa
Jumlah siswa
Keterangan:
Nr: Nilai rata-rata
Nilai rata-rata yang diperoleh kemudian
dikonversikan pada tabel 2, sehingga
diketahui perolehan nilai pada aspek
afektif dan aspek psikomotor.
Tabel 2
Kriteria Penilaian
Saat penerapan media pembelajaran
matryoshka box dilakukan, guru
melakukan observasi. Observasi dilakukan
untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa
yang terjadi saat proses pembelajaran
berlangsung. Observasi ini sesuai dengan
lembar kuesioner yang diberikan. Hasil
kuesioner dianalisis dengan menggunakan
rumus (Akbar, 2013:82):
Vo=
TSp
TSm
x 100%
Keterangan:
Vo = Persentasi validitas oleh observer
TSp = Total skor yang diperoleh
TSm = Total skor maksimal
Setelah diperoleh hasil persentasi, hasil
persentasi kemudian dikonversikan pada
tabel 3 untuk mengetahui efektivitas
pembelajaran saat media pembelajaran
matryoshka box diterapkan.
Tabel 3
Kriteria Efektivitas Pembelajaran
Sumber data diperoleh dari lembar
kuesioner yang diberikan kepada siswa.
Lembar kuesioner diberikan kepada siswa
setelah mengikuti pembelajaran dengan
menerapkan media pembelajaran
matryoshka box. Kuesioner siswa
digunakan untuk mengetahui kemenarikan
media pembelajaran matryoshka box. Data
kemudian dianalisis dengan menggunakan
rumus (Akbar, 2013: 158):
Km=
TSp
TSm
x 100%
Keterangan:
Km = Persentasi kemenarikan media
TSp = Total skor yang diperoleh
TSm = Total skor maksimal
Hasil analisis kemudian
dikonversikan pada tabel 4 Sehingga
diketahui kriteria kemenarikan media
pembelajaran matryoshka box.
Tabel 4
Kriteria Kemenarikan Media Pembelajaran
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Secara umum penelitian dan
pengembangan media pembelajaran
matryoshka box, menggunakan model
pembelajaran 4D terdiri dari 4 tahap, yaitu:
define, design, development dan
disseminate, namun pada penelitian dan
pengembangan media pembelajaran
matryoshka box sampai pada tahapan
development. Penelitian dan
pengembangan ini mengembangkan
sebuah media pembelajaran pada proses
pembelajaran IPA. Media pembelajaran
adalah segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk menyalurkan pesan dan
merangsang terjadinya proses
pembelajaran sedangkan IPA merupakan
ilmu yang berhubungan dengan gejala
alam dan kebendaan yang sistematis yang
tersusun secara teratur, berlaku umum
yang berupa kumpulan dari hasil
obeservasi dan eksperimen. Sehingga
penggunaan media pembelajaran dalam
proses pembelajaran akan memperbanyak
pengalaman belajar siswa, membuat siswa
menjadi tidak bosan, dan memberikan
pengalaman yang menarik kepada siswa
oleh karena itu dalam proses pembelajaran
IPA guru perlu menggunakan media
pembelajaran. Media pembelajaran yang
dikembangkan dalam penelitian ini adalah
media pembelajaran matryoshka box.
Media pembelajaran matryoshka box
adalah media cerita anak yang
menjelaskan bagaimana proses terjadinya
rantai makanan pada pembelajaran IPA
kelas IV.
Penelitian dan pengembangan media
pembelajaran matryoshka box dilakukan di
SDN Bancaran 4 kelas IV. Berdasarkan
hasil penelitian, didapatkan pengembangan
media pembelajaran matryoshka box dan
efektivitas media pembelajaran
matryoshka box dalam proses
pembelajaran. Hasil penelitian dan
pengembangan media matryoshka box
dijabarkan sebagai berikut:
Pengembangan Media Pembelajaran
Matryoshka box
Pengembangan media pembelajaran
matryoshka box terinspirasi dari boneka
matryoshka. Boneka matryoshka berasal
dari perpaduan tradisi pembuatan boneka
yang mewakili dewa Fukurojuku di Jepang
dengan tradisi pembuatan telur paskah dari
kayu ala Russian. Boneka matryoshka
memiliki ruang di dalamnya sehingga
dapat diisi dengan boneka matryoshka
lainnya yang berukuran lebih kecil. Hal ini
berulang hingga beberapa matryoshka
yang ukurannya lebih kecil dapat disimpan
pada setiap matryoshka yang lebih besar
dan begitu hingga menjadi satu kesatuan.
Bentuk boneka matryoshka inilah yang
menginspirasi pengembangan media
pembelajaran matryoshka box. Media
pembelajaran matryoshka box merupakan
media pembelajaran yang berbentuk box
yang memiliki ruang sehingga dapat diisi
dengan box lainnya yang berukuran lebih
kecil. Media pembelajaran matryoshka box
adalah media cerita yang menjelaskan
materi rantai makanan. Cerita yang
digunakan merupakan cerita fabel.
Berdasarkan cerita yang disampaikan,
siswa dapat melihat bagaimana proses
terjadinya rantai makanan. Matryoshka
box terbuat dari karton tebal yang dilapisi
dengan kain flannel yang kemudian
ditempelkan gambar pada bagian depan
box. Matryoshka box terdiri dari beberapa
box, box tersebut antara lain:
a. Box besar I merupakan box rumah pak
rudi. Box besar I berisi box yang
berperan sebagai pak rudi, box yang
lebih kecil dari box pak rudi merupakan
box susu dan di dalalm box susu berisi
box telur.
b. Box besar II merupakan box kandang
pak rudi. Box kandang Pak Rudi berisi
box yang berperan sebagai kambing
(ambi) dan box yang berperan sebagai
ayam (aya).
c. Box besar III adalah box rumput. Box
besar III berisi 2 box kecil yang berperan
sebagai rumput dan box yang berperan
sebagai ulat.
d. Box keempat adalah box yang berperan
sebagai singa.
e. Box kambing II sebagai hewan peliharan
baru Pak Rudi.
Berdasarkan cerita, Pak Rudi
meminum susu yang dihasilkan oleh
kambing dan memakan telur yang
dihasilkan oleh ayam, kemudian ulat yang
berada kebun Pak Rudi memakan rumput
yang ada di kebun, setelah itu ulat
dimakan oleh ayam. Ayam yang sedang
tertidur kemudian dimakan oleh singa.
Terjadinya hubungan makan dan dimakan
antara rumput, ulat, ayam dan singa
merupakan salah satu contoh dari rantai
makanan. Rantai makanan merupakan
materi yang diajarkan di tingkat SD kelas
IV. Pengembangan media pembelajaran
matryoshka box ini bertujuan untuk
memberikan gambaran konkrit proses
terjadinya rantai makanan melalui cerita
anak. Berdasarkan lembar validasi ahli
bahasa, cerita yang digunakan sesuai
dengan perkembangan sosial emosional
siswa SD. Cerita yang digunakan termasuk
pada cerita fabel. Cerita fabel adalah
dongeng yang menggambarkan watak dan
budi pekerti yang diibaratkan oleh hewan.
Berdasarkan hasil validasi yang
diperoleh dari ahli bahasa, persentase
validitas pada segi bahasa mencapai 85,9%
(Sangat Layak).
Validasi juga dilakukan pada ahli
materi. Validasi ahli materi dilakukan
untuk mengetahui bagaimana kesesuaian
cerita dengan materi rantai makanan. Pada
penyerahan lembar validasi oleh ahli
materi dilampirkan RPP, cerita dan materi
yang akan disampaikan. Materi rantai
makanan yang disampaikan sesuai dengan
SK nomor 5. Memahami hubungan sesama
makhluk hidup dan antara makhluk hidup
dengan lingkungannya dan sesuai dengan
KD nomor 5.1 Mengidentifikasi beberapa
jenis hubungan khas (simbiosis) dan
hubungan “makan dan dimakan” antar
makhluk hidup (rantai makanan). Materi
dijelaskan dengan alokasi waktu 2 x jam
pelajaran. Setiap jam terdiri dari 35 menit,
sehingga waktu yang digunakan adalah 70
menit. Hasil validitas gabungan yang
diperoleh dari ahli materi adalah 82,8%
(Cukup Layak), sehingga diketahui bahwa
cerita yang digunakan pada media
pembelajaran matryoshka box cukup layak
dan cukup sesuai dengan materi rantai
makanan.
Sedangkan pada validasi yang
dilakukan pada ahli media digunakan
untuk mengetahui kelayakan media yang
dikembangkan. Hasil validasi yang
dilakukan oleh ahli media dijabarkan
sebagai berikut:
a. Media pembelajaran matryoshka box
merupakan media pembelajaran yang
kreatif, inovatif dan memiliki
keunggulan dari media pembelajaran
konvensional karena media
pembelajaran matryoshka box dapat
melibatkan siswa dalam proses
pembelajaran, sehingga siswa juga
terlibat aktif menggali pengetahuannya
sendiri.
b. Media pembelajaran matryoshka box
dapat digunakan dalam waktu yang lama
sehingga dapat meminimalisir
penggunaan biaya dan waktu karena
guru dapat menggunakan matryoshka
box berkali-kali.
c. Media pembelajaran matryoshka box
dapat dengan mudah digunakan oleh
guru karena media pembelajaran
matryoshka box dilengkapi dengan buku
petunjuk penggunaan buku yang dapat
membantu guru dalam menggunakan
media pembelajaran matryoshka box.
d. Media pembelajaran matryoshka box
dapat meningkatkan motivasi belajar,
e. Media pembelajaran matryoshka box
dapat menarik perhatian siswa
Berdasarkan hasil kuesioner siswa,
persentase rata-rata kemenarikan media
pada uji coba kelompok besar sebesar
98,2% (Sangat Menarik) sehingga dapat
disimpulkan bahwa media pembelajaran
matryoshka box merupakan media
pembelajaran yang sangat menarik dan
membantu siswa memahami materi
pembelajaran.
Media pembelajaran matryoshka box
merupakan media pembelajaran yang
menarik dikarenakan:
a. Media pembelajaran matryoshka box
berbentuk box bersarang yang unik. Pada
box paling kecil merupakan box rumput.
Box rumput dimasukkan ke dalam box
ulat. Box ulat dimasukkan kedalalam box
ayam. Box ayam dimasukkan kedalam
box singa, sehingga dapat diketahui
dengan jelas proses terjadinya rantai
makanan.
b. Media pembelajaran matryoshka box
dilengkapi dengan cerita yang menarik
dan sekaligus menggambarkan proses
terjadinya rantai makanan.
c. Media pembelajaran harus memiliki
nilai ekstetika sehingga media dapat
menarik perhatian siswa. Berdasarkan
lembar kuesioner siswa diketahui bahwa
siswa suka dengan bentuk dan gambar
yang ada dalam media pembelajaran
matryoshka box dan menyatakan bahwa
media pembelajaran maryoshka box
merupakan media pembelajaran yang
menarik, hal ini dikarenakan media
pembelajaran matryoshka box dilapisi
kain flannel dan dilengkapi oleh gambar
nyata para tokoh cerita.
Berdasarkan hasil validasi oleh ahli
dan keusioner kemenarikan media,
diketahui bahwa kelebihan media
pembelajaran matryoshka box dibanding
dengan media pembelajaran konvensional
adalah:
a. Dapat membantu guru untuk
menyampaikan materi rantai makanan
agar tidak terlalu verbalistis
b. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu
dan tempat karena media pembelajaran
matryoshka box memberikan gambaran
konkrit terjadinya proses rantai makanan
melalui cerita yang disampaikan
c. Media pembelajaran matryoshka box
dilengkapi dengan cerita yang menarik
yang sekaligus terdapat materi rantai
makanan
d. Berdasarkan lembar kuesioner yang
diberikan kepada siswa setelah proses
pembelajaran, media pembelajaran
matryoshka box dapat meningkatkan
motivasi belajar siswa
e. Memberikan pengalaman belajar yang
efektif sekaligus menyenangkan
f. Memudahkan siswa untuk memahami
materi rantai makanan
g. Merupakan media pembelajaran yang
menarik
h. Dapat digunakan dalam waktu yang
cukup lama
Di samping kelebihan, media
pembelajaran matryoshka box juga
memiliki kekurangan. Kekurangan dari
media pembelajaran matryoshka box
adalah cerita yang digunakan kurang
bervariasi, hanya terdapat 1 cerita pada
petunjuk penggunaan buku dan hanya bisa
menyampaikan materi rantai makanan.
Efektivitas Pembelajaran dengan
Menggunakan Media Pembelajaran
Matryoshka Box
Efektivitas pembelajaran dapat
diketahui dari segi proses dan segi hasil
belajar. Pada segi proses pembelajaran
dapat diketahui melalui lembar observasi
guru dan lembar observasi siswa. Pada
segi hasil belajar dapat ditinjau melalui 3
aspek utama, yaitu aspek kognitif, afektif
dan psikomotor.
Proses Pembelajaran
Hasil dari lembar observasi guru
mencapai persentase 75% (Cukup Efektif)
dan pada lembar observasi siswa mencapai
persentase 77,6% (Cukup Aktif).
Efektivitas pembelajaran dengan
menggunakan media pembelajaran
matryoshka box dari segi proses
pembelajaran masuk pada kriteria cukup
efektif dikarenakan:
1. Media pembelajaran matryoshka box
merupakan media yang dapat dengan
mudah digunakan oleh guru.
2. Siswa aktif dalam proses pembelajaran
dan terbentuk interaksi positif antar
siswa dan interaksi positif antar siswa
dengan guru.
3. Media pembelajaran matryoshka box
dapat membentuk interaksi positif antara
siswa dengan media pembelajaran dan
siswa tertarik dengan materi yang
disajikan dengan media pembelajaran
sekaligus terlibat dalam pemanfaatan
media pembelajaran
4. Media pembelajaran matryoshka box
dapat membantu siswa mengutarakan
pendapatnya dengan baik
5. Siswa merasa senang saat proses
pembelajaran berlangsung sehingga
siswa motivasi dalam belajar materi
rantai makanan.
Hasil Belajar
Penilaian hasil belajar meliputi aspek
kognitif, afektif dan psikomotor. Pada
penilaian kognitif, jumlah soal tes yang
diukikan kepada siswa sebanyak 3 soal.
Ketuntasan belajar klasikal pada uji coba
kelompok besar mencapai persentase
100%.
Penilaian pada aspek afektif
bertujuan untuk mengetahui sikap siswa
dalam proses pembelajaran. Penilaian pada
aspek afektif didasarkan pada sikap
percaya diri, displin dan menghargai. Pada
uji coba kelompok besar, nilai rata-rata
siswa adalah 90,2 yang termasuk pada
kategori SB (Sangat Baik).
Penilaian pada aspek psikomotor
diperoleh dari hasil diskusi kelompok
siswa. Pada uji coba kelompok besar, nilai
rata-rata yang diperoleh oleh siswa juga
menunjukkan nilai 86,6 yang termasuk
kategori SB (Sangat Baik).
SIMPULAN
Produk yang dikembangkan pada
penelitian dan pengembangan ini adalah
media pembelajaran matryoshka box.
Penelitian dan pengembangan media
pembelajaran matryoshka box
dikembangkan berdasarkan langkahlangkah
pengembangan model
pembelajaran 4D. Langkah-langkah
pengembangan model 4D media
pembelajaran terdiri dari 4 tahap, tahap
tersebut antara lain: define, design,
development dan disseminate, namun pada
penelitian dan pengembangan media
pembelajaran matryoshka box penelitian
dilakukan sampai pada tahapan
development.
Media pembelajaran matryoshka box
merupakan media pembelajaran dalam
bentuk media cerita yang membantu siswa
memahami materi rantai rantai makanan
kelas IV pada pembelajaran IPA. Media
pembelajaran matryoshka box berbentuk
box yang terbuat dari kertas karton tebal
yang dibagian luar dilapisi oleh kain
flannel. Di bagian depan box terdapat
gambar karakter hewan yang merupakan
tokoh dalam cerita. Media pembelajaran
matryoshka box dilengkapi dengan cerita,
petunjuk penggunaan buku dan namanama
hewan.
Saran yang diberikan peneliti antara lain:
a. Guru harus menguasai media
pembelajaran matryoshka box.
b. Media pembelajaran matryoshka box
dapat digunakan dengan model
pembelajaran yang berbeda.
c. Memastikan ketersediaan media
pembelajaran matryoshka box, karena
media pembelajaran dibuat secara
handmade sehingga membutuhkan
waktu yang cukup lama
d. Memberikan dan menjelaskan
penggunaan media pembelajaran
matryoshka box.
e. Jika terdapat peneliti lain yang ingin
mengembangkan media pembelajaran
matryoshka box hendaknya dapat
mendesain media pembelajaran
matryoshka box dapat menjelaskan
materi pembelajaran tidak hanya pada
materi rantai makanan tetapi juga dapat
menjelaskan materi pembelajaran yang
berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Adiputri, Novi Chistiastuti. 2014. “RI Terendah di
PISA, WNA: Indonesian Kids Don’t Know
How Stupid They Are”. (Online),
(http://news.detik.com/read/2014/02/08/153
124/2491125/10/ri-terendah-di-pisa-wnaindonesian-
kids-dont-know-how-stupidthey-
are), diakses tanggal 8 Februari 2014.
Akbar, Sa’dun. 2013. Instrumen Perangkat
Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosda
Karya.
Akbar, Sa’dun. 2013. Instrumen Perangkat
Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosda
Karya.
Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Standar
Isi Tingkat SD/MI. Jakarta: Depdiknas.
Heruman. 2012. Model Pembelajaran Matematika.
Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Imroah, Siti. 2013. Pemanfaatan Laboratorium
untuk Pembelajaran Biologi di MA Al-Ansor
Gunungpati Semarang. Skripsi. Universitas
Negeri Semarang.
Ratnawati. Endang Sri. 2009. Pemanfaatan Media
Pembelajaran Benda Konkrit untuk
Meningkatkan Hasil Belajar IPA Kelas III
SDN Ketangirejo I Kecamatan Kejayaan
Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Universitas
Negeri Malang.
Ratnawati. Endang Sri. 2009. Pemanfaatan Media
Pembelajaran Benda Konkrit untuk
Meningkatkan Hasil Belajar IPA Kelas III
SDN Ketangirejo I Kecamatan Kejayaan
Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Universitas
Negeri Malang.
Ulfa, Dewi Amaliya. 2015. Pengaruh Penerapan
Pembelajaran Tematik Integratif Model
Konsiderasi Pada Mata Pelajaran Pkn
Kelas IV SD Terhadap Sikap Peduli
Lingkungan. Skripsi. Universitas Trunojoyo
Madura.
Play Free Online Casino Games - KDAsia
BalasHapusPlay 온카지노 free casino games with septcasino this KADAsia online casino site! Play for real money or for real money in our online 제왕카지노 casino.Free Online Casino Games · Baccarat · Poker