PENGEMBANGAN ALAT PERAGA LINGKUNGAN SEHAT DAN TIDAK SEHAT


PENGEMBANGAN ALAT PERAGA LINGKUNGAN SEHAT
DAN TIDAK SEHAT SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN
IPA KELAS III SDN JUKONG 2 BANGKALAN

Ainur Rafiqah1,Eva Ari Wahyuni2, Wanda Ramansyah3.
(1)Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar,
Fakultas ILmu Pendidikan, Universitas Trunojoyo Madura
(2)Dosen Program Studi Pendidikan IPA
(3)Dosen Program Studi Pendidikan Informatika
E-mail: ainurrafiqah@gmail.com
ABSTRAK
Penelitian ini dilatar belakangi oleh keadaan lingkungan dan fasilitas di SDN Jukong 2
Bangkalan masih minim dan sekolah ini memiliki lingkungan yang masih kurang bersih. Salah
satu upaya meningkatkan kualitas proses belajar yang lebih baik adalah dengan penggunaan
alat peraga. Tujuan peneliti menggunakan alat peraga lingkungan sehat dan tidak sehat untuk
menciptakan media yang menarik sesuai dengan materi dan keadaan di sekolah tersebut. Model
pengembangan yang digunakan oleh peneliti adalah model Borg & Gall yang memiliki 10
tahapan diantaranya (1) Identifikasi masalah, (2) Pengumpulan informasi, (3) Desain
produk, (4) Validasi desain, (5) Perbaikan desain, (6) Uji coba produk, (7) Revisi produk,
(8) Uji coba pemakaian, (9) Revisi produk tahap akhir, (10) Produksi massal. Alat peraga
lingkungan sehat dan tidak sehat diperoleh hasil validasi ahli media adalah 93,3% (sangat
valid), ahli desain pembelajaran adalah 70,8% (cukup valid), ahli materi adalah 90%
(sangat valid), ahli bahasa adalah 95,5%. Presentase kelayakan alat peraga dari responden
yang dilakukan pada uji coba kelompok kecil adalah 89,7% sedangkan dari responden yang
dilakukan pada uji coba kelompok besar adalah 95,4%. Hasil perolehan presentase tersebut
adalah hasil akhir yang telah dikonversikan pada tabel kriteria tingkat pencapaian nilai.
Kata kunci: pengembangan, alat peraga, lingkungan sehat, model Borg & Gall
ABSTRACT
The background of the study is minimum conditionof of facility and environment at SDN
Jukong 2 Bangkalan and this school also does not too aware on cleanliness. One way to
increase the quality of better teaching and learning is to provide useful and interestinglearning
props. The purpose of the study is to create interesting props according to subject taught and
school environment and condition. Development model applied is Borg and Gall whicah consist
of 10 steps; (1) research identification, (2) collecting information, (3) designing product, (4)
validating design, (5) maintenancing design, (6) experimenting the design, (7) revising product,
(8) experimenting usage, (9) revising final product, (10) mass production. Healthy and
unhealthy environment props obtain validation result come from media expert as 93,3% (very
valid), learning design expert as 70,8% (quite valid), material expert as 90% (very valid),
linguist as 95,5%. The properness percentage of props taken from respondent through small
group experiment is 89,7%, while the large group is 95,4%. The result of percentage result is
the final results are converted through criteria table in value achievement level.
Keywords: development, props, healthy environment, Borg and Gall model.
2
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa agar mampu
menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya, dan dengan demikian akan
menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkannya untuk berfungsi dalam kehidupan
masyarakat. Tujuan pendidikan yaitu seperangkat hasil pendidikan yang tercapai oleh siswa setelah
diselenggarakannya kegiatan pendidikan yang meliputi bimbingan pengajaran, dan latihan
diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan (Hamalik, 2013: 3). Depdiknas Ilmu Pengetahuan
Alam (IPA) merupakan mata pelajaran yang identik dengan lingkungan dan alam sekitar. Siswa
diharapkan mampu memahami konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari. IPA bukan hanya
penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja, tetapi juga
merupakan suatu proses penemuan.
Proses belajar mengajar, dua unsur yang amat penting adalah metode mengajar dan media
pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan, pemilihan salah satu metode mengajar tertentu
akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai. Selain model pembelajaran dan media
yang mendukung keberhasilan siswa dalam memahami materi pelajaran hal yang tak kalah
pentingnya yaitu pengaruh lingkungan. Lingkungan sangat berpengaruh untuk keberlangsungan
proses belajar mengajar. Lingkungan yang nyaman dan bersih dapat mendukung tumbuh kembang
siswa. Apabila lingkungan sehat dan bersih maka dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
Suasana lingkungan yang bersih membuat siswa dapat berpikir dengan jernih dan mudah untuk
menerima pelajaran, sehingga siswa dapat belajar dengan semangat yang dimilikinya.
Berdasarkan hasil observasi pada bulan November diketahui bahwa dalam pembelajaran
guru lebih banyak yang masih menggunakan metode pembelajaran konvensional dan media
seadanya sehingga kurang menarik minat siswa untuk belajar. Guru masih mengajar dengan
menggunakan ceramah. Guru masih menjadi sumber atau pusat ilmu sehingga pembelajaran di
dalam kelas, kurang menarik perhatian siswa, dan membuat siswa mudah bosan saat pembelajaran
berlangsung. Hal ini berakibat pada hasil belajar siswa yang berada di bawah KKM yang ditetapkan
sekolah berdasarkan kemampuan belajar siswa kelas III SDN Jukong 2 Bangkalan. Begitu pula
keadaan lingkungan dan fasilitas di SDN Jukong 2 Bangkalan masih minim. Hal ini dapat
dibuktikan dengan tidak adanya tempat seperti laboraturium TIK, perpustakaan, dan UKS. Saat
proses pembelajaran guru hanya menggunakan media seadanya untuk memberikan stimulus
sebelum memasuki pelajaran. Media yang ada di dalam kelas hanya berupa gambar-gambar saja.
Model pembelajaran serta media yang digunakan bersifat monoton karena kurangnya fasilitas
sekolah yang menyebabkan pembelajaran menjadi membosankan. Sekolah ini memiliki lingkungan
yang masih kurang bersih yang dapat dibuktikan dengan kamar mandi yang kotor dan berserakan
sampah. Kurangnya kesadaran dalam kebersihan lingkungan dapat mengganggu berlangsungnya
proses belajar mengajar di sekolah. Lingkungan sekolah tersebut sangat penting untuk
keberlangsungan pembelajaran siswa karena dapat membantu siswa agar termotivasi untuk belajar
dengan suasana yang nyaman dan bersih.
Salah satu upaya meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang lebih baik adalah dengan
penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar. Media adalah segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran,
perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi
(Sadiman, 2012: 7). Penggunaan media dalam pembelajaran menyebabkan siswa lebih banyak
melakukan kegiatan belajar tidak hanya mendengarkan penjelasan guru tetapi juga melakukan
aktifitas lain seperti mengamati, melakukan demonstrasi dan kegiatan yang lain sehingga siswa
3
tidak merasa bosan (Umami, 2009: 4). Media sangat membantu siswa dalam memahami materi
begitu juga dengan guru dapat lebih mudah mentransformasikan ilmu kepada siswanya melalui
media. Ditinjau dari lingkungan sekolah yang belum sepenuhnya memperhatikan kebersihan
lingkungan maka peneliti mengambil materi mengenai ligkungan.Agar siswa lebih jelas memahami
konsep pada materi ciri-ciri lingkungan sehat dan tidak sehat, dikembangkanlah suatu sumber
belajar dalam bentuk alat peraga lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat. Pembelajaran dengan
menggunakan alat peraga disebabkan karena peneliti menyesuaikan dengan kondisi real di sekolah
tersebut yang masih memiliki fasilitas yang minim seperti tidak adanya LCD yang dapat membantu
siswa untuk memahami pelajaran, sehingga peneliti memilih untuk mengembangkan alat peraga
lingkungan sehat dan tidak sehat di kelas III SDN Jukong 2 Bangkalan.
Arsyad (2014: 9) mengatakan bahwa alat peraga adalah media alat bantu pembelajaran, dan
segala macam benda yang digunakan untuk memperagakan materi pelajaran. Alat peraga
mengandung pengertian bahwa segala sesuatu yang masih bersifat abstrak, kemudian dikonkretkan
dengan menggunakan alat agar dapat dijangkau dengan pikiran yang sederhana dan dapat dilihat,
dipandang dan dirasakan. Alat peraga tiga dimensi tersebut akan membantu siswa saat mempelajari
perbedaan lingkungan sehat dan tidak sehat dengan beberapa ciri-ciri yang akan diajarkan. Siswa
dapat membedakan sendiri sebab dan akibat dari keadaan lingkungan yang sehat dan tidak sehat
melalui alat peraga tersebut. Alat peraga ini akan mengajarkan siswa mengenai pentingnya hidup
dengan lingkungan yang sehat.
Tujuan dari dilakukannya penelitian pengembangan alat peraga sebagai media
pembelajaran IPA agar siswa dapat belajar memahami materi langsung dengan media yang
dimanipulasi seperti keadaan yang sebenarnya sesuai dengan keadaan sekolah, sehingga siswa
merasa tertarik untuk mempelajari materi pelajaran mengenai lingkungan sehat dan tidak sehat. Alat
peraga ini dikembangkan untuk menciptakan proses belajar mengajar yang menyenangkan dengan
interaksi langsung antara guru, siswa, dan media melalui cerita dan simulasi yang telah disiapkan.
Saat pembelajaran berlangsung guru dapat mengetahui efektivitas pembelajaran IPA materi
lingkungan sehat dan tidak sehat menggunakan alat peraga dari keaktifan siswa di dalam kelas.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Pramesty (2013) dengan menggunakan alat
peraga menunjukkan bahwa penilaian alat peraga kit fluida statis didapatkan persentase sebesar
77% dengan kategori baik. Pembelajaran dengan menggunakan media alat peraga kit fluida statis
juga mendapatkan respons yang baik dari siswa. Hal ini dibuktikan dengan persentase hasil analisis
angket respons siswa yang mencapai 92,5% dengan kriteria sangat kuat. Dapat disimpulkan bahwa
penggunaan alat peraga layak diterapkan untuk pembelajaran. Berdasarkan latar belakang di atas,
maka peneliti mengangkat judul tentang “Pengembangan Alat Peraga Lingkungan Sehat dan Tidak
Sehat sebagai Media Pembelajaran IPA Kelas III SDN Jukong 2 Bangkalan."
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan atau research & development (R &
D). Penelitian dan pengembangan merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan
suatu produk yang digunakan dalam proses pembelajaran. Peneliti ingin mengembangkan alat
peraga yang berbentuk tiga dimensi dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Pengembangan ini
dibuat agar siswa lebih memahami perbedaan dari kondisi sebuah lingkungan yang sehat dan
lingkungan yang tidak sehat melalui sebuah cerita dan simulasi yang dibuat oleh peneliti untuk
mengaplikasikan alat peraga pengembangan yang dibuat. Pengembangan yang dilakukan berupa
data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari angket yang disebarkan kepada subjek
4
uji coba dan analisis kelayakan alat peraga, sedangkan kualitatif berupa tanggapan dan saran-saran
perbaikan yang diperoleh dan hasil wawancara. Model pengembangan alat peraga pada mata
pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam menggunakan model Borg & Gall. Tahapan-tahapan Borg & Gall
(dalam Emzir 2015: 271) dalam pengembangannya diantaranya (1) Penelitian dan pengumpulan
informasi, (2) Perencanaan, (3) Pengembangan bentuk awal produk, (4) Uji lapangan awal, (5)
Revisi produk, (6) Uji lapangan utama (7) Revisi produk operasional, (8) Uji lapangan operasional,
(9) revisi produk akhir, (10) Produksi massal. Penelitan tesis disertasi, Borg&Gall (dalam Emzir,
2014: 271) menyarankan untuk membatasi penelitian dalam skala kecil, termasuk dimungkinkan
membatasi langkah penelitian. Tahapan produksi massal tidak dilakukan oleh peneliti dan
pengembang karena keterbatasan waktu dan biaya. Peneliti sebagai mahasiswa hanya bertindak
untuk mendapatkan gelar S1. Alat Peraga ini hanya untuk diuji kevalidannya oleh tim ahli dan juga
diujicobakan pada sasaran untuk diketahui keefektifitasannya. Alat peraga yang dikembangkan
hanya untuk diketahui layak atau tidak sebagai media pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Subjek uji coba pada pengembangan alat peraga tiga dimensi ini dilakukan oleh siswa kelas
III SDN Jukong 2 Bangkalan. Subjek uji coba kelompok kecil yaitu 9 yang terdiri dari berbagai
karakteristik dengan kemampun yang berbeda. Diusahakan siswa yang dipilih terdiri dari siswa
yang kurang pandai, sedang, dan pandai; laki-laki dan perempuan; berbagai usia dan latar
belakang.Uji coba kelompok besar dilakukan pada seluruh siswa kelas III SDN Jukong 2 Bangkalan
dengan jumlah 20 siswa dari berbagai karakteristik dengan kemampun yang berbeda kecuali yang
telah diikutsetakan pada uji kelompok kecil.
Revisi desain awal
Validasi ahli bahasa, validasi
ahli materi, validasi ahli media,
validasi ahli desain
pembelajaran
Desain awal media
Uji coba kelompok
kecil
Uji coba kelompok
besar
Revisi produk awal
Revisi produk akhir
Produk akhir
Skema 1. Desain uji coba produk modifikasi model Borg &
Gall oleh Sugiyono
H Sugiyono
5
Instrumen penelitian yang digunakan peneliti yaitu observasi, wawancara, angket/
kuesioner, dokumentasi, dan hasil belajar. Berdasarkan perolehan lembar kuesioner dari validasi
ahli yang berisi perolehan hasil kelayakan dari alat peraga lingkungan sehat dan tidak sehat dan
lembar observasi pada saat guru mengajar serta observasi siswa yang dapat diketahui dari
efektivitas proses pembelajaran IPA materi perbedaan lingkungan sehat dan tidak sehat. Data yang
diperoleh dianalisis dengan menggunakan cara sebagai berikut:
V = x 100%
Sumber: (Akbar, 2013: 158)
Keterangan:
V : Validitas ahli
TSe : Total skor empirik (hasil validasi dari validator)
TSh : Total skor maksimal
Tabel 1. Kriteria Tingkat Pencapaian Nilai
No Kriteria pencapaian nilai Tingkat efektifitas/validitas
1
81,00% – 100,00%
Sangat valid; atau, sangat efektif (sangat tuntas),
dapat digunakan tanpa perbaikan.
2
61,00% – 80,00%
Cukup valid; cukup efektif (cukup tuntas), dapat
digunakan namun perlu perbaikan kecil.
3
41,01% – 60,00%
Kurang valid; atau kurang efektif (kurang tuntas),
perlu perbaikan besar.
4
21,00% – 40,00%
Tidak valid; atau tidak efektif (tidak tuntas), tidak
bisa digunakan.
5
00,00% – 20,00%
Sangat tidak valid, sangat tidak efektif, sangat tidak
tuntas, tidak bisa digunakan
Sumber: (Akbar, 2013: 82)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengembangan penelitian alat peraga lingkungan sehat dan tidak sehat yang
menggunakan model Borg & Gall dengan 10 tahapan diantaranya (1) Identifikasi masalah, (2)
Pengumpulan informasi, (3) Desain produk, (4) Validasi desain, (5) Perbaikan desain, (6) Uji
coba produk, (7) Revisi produk, (8) Uji coba pemakaian, (9) Revisi produk tahap akhir, (10)
Produksi massal. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di SDN Jukong 2
didapatkan sebuah masalah mengenai kebersihan lingkungan di sekolah tersebut. Ditinjau dari
permasalahan yang di dapat, maka peneliti dan pengembang ingin membantu guru dalam
menyampaikan materi melalui alat peraga tentang lingkungan sehat dan tidak sehat untuk
meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.
Hasil observasi yang dilakukan menunjukkan bahwa:
a) Lingkungan disekitar siswa khususnya kamar mandi banyak sampah yang berserakan.
b) Ruang kelas III SDN Jukong 2 tidak begitu diperhatikan untuk masalah kebersihannya, masih
banyak anak-anak yang membuang sampah disekitar bangkunya.
c) Media yang ada di ruang kelas masih berupa media gambar saja yang di tempel di dinding.
6
Setelah melakukan observasi kemudian peneliti dan pengembang melakukan wawancara
kepada wali kelas III SDN Jukong 2 dengan hasil yaitu:
a) Sekolah tersebut belum memiliki perpustakaan maupun laboraturium TIK sehingga untuk
membantu siswa dalam menambah pengetahuan maupun media sebagai alat untuk membantu
siswa memahami pelajaran masih belum sepenuhnya terpenuhi yang mengakibatkan hasil
belajar siswa juga masih kurang.
b) Guru hanya menggunakan metode ceramah dan media seadanya yang berada di dalam kelas
untuk memberikan stimulus sebelum memasuki pelajaran.
Dari permasalahan tersebut dikembangkanlah media mengenai lingkungan yang berbentuk tiga
dimensi dengan menyesuaikan pada kondisi sekolah untuk membantu siswa memahami materi.
Adanya alat peraga dapat membantu siswa untuk memahami materi dengan mudah sesuai
pengalaman dan lingkungan sekitar siswa.
Tahapan desain produk merupakan tahapan peneliti dan pengembang memulai untuk
membuat sketsa produk media yang akan dikembangkan dan disajikan di sekolah SDN Jukong 2.
Alat dan bahan yang telah dipersiapkan diajukan terlebih dahulu kepada dosen pembimbing untuk
mendapat arahan dalam pembuatan produk alat peraga. Setelah rancangan sketsa alat peraga sudah
selesai dan disetujui oleh dosen pembimbing maka peneliti dan pengembang langsung membuat alat
peraga lingkungan sehat dan tidak sehat sesuai dengan sketsa yang telah direncanakan. Setelah
peneliti membuat produk alat peraga melalui 3 tahapan pada model Borg & Gall maka hasil dari
produk alat peraga seperti gambar di bawah ini:
Validasi desain yang terdiri dari validasi media pembelajaran, validasi desain
pembelajaran, validasi bahasa, dan validasi materi pada produk alat peraga lingkungan sehat
dan tidak sehat yang dilakukan oleh para ahli untuk mengetahui kelayakan, keefektifan, serta
saran/tanggapan dari media pengembangan yang telah dibuat dan kemudian dilakukan
perbaikan jika mendapat saran dari tim ahli validator. Hasil dari tim validator mengenai
kelayakan alat peraga yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut.
Tabel 2. Hasil validasi oleh validator
No. Validator Hasil validasi
1. Ahli media pembelajaran 93,3%
2. Ahli desain pembelajaran 70,8%
3. Ahli materi 90%
4. Ahli bahasa 95,5%
Gambar 1. Alat peraga lingkungan sehat dan tidak sehat
7
Data hasil uji coba produk (kelompok kecil) dan uji coba pemakaian (kelompok besar)
berdasarkan angket yang diberikan kepada siswa dan lembar observasi pembelajaran dapat dilihat
pada tabel berikut.
Tabel 3. Hasil uji coba kelompok kecil
No. Aspek alat peraga Persentase Kriteria
1. Angket 89,7% Sangat valid/efektif
2. Lembar observasi guru 93% Sangat valid/efektif
3. Lembar observasi siswa 94% Sangat valid/efektif
Tabel 4. Hasil uji coba kelompok kecil
No. Aspek alat peraga Persentase Kriteria
1. Angket 95,4% Sangat valid/efektif
2. Lembar observasi guru 94% Sangat valid/efektif
3. Lembar observasi siswa 94% Sangat valid/efektif
Tahap terakhir dari model Borg & Gall yaitu produksi masal. Tahapan ini tidak dilakukan
oleh peneliti dan pengembang karena keterbatasan waktu dan biaya. Peneliti sebagai mahasiswa
hanya bertindak untuk mendapatkan gelar S1. Alat peraga ini hanya untuk diuji kevalidannya oleh
tim ahli dan juga diujicobakan pada sasaran untuk diketahui keefektifitasannya. Alat peraga yang
dikembangkan hanya untuk diketahui layak atau tidak sebagai media pembelajaran dalam proses
belajar mengajar.
KAJIAN PRODUK YANG DIKEMBANGKAN DAN SARAN
Berbagai tahapan yang telah dilakukan mulai dari desain awal media, validasi ahli media,
validasi ahli desain pembelajaran, validasi ahli materi, validasi ahli bahasa, revisi desain awal, uji
coba kelompok kecil, revisi produk awal, uji coba kelompok besar, revisi produk akhir, dan
produksi massal maka produk alat peraga lingkungan sehat dan tidak sehat dapat digunakan di
sekolah dasar terutama untuk kelas 3 materi membedakan ciri-ciri lingkungan sehat dan lingkungan
tidak sehat berdasarkan pengamatan. Alat peraga lingkungan sehat dan tidak sehat ini telah disetujui
oleh tim ahli dan responden. Keberadaan alat peraga dapat membantu guru dan siswa berinteraksi
dengan mudah. Siswa dapat lebih mudah memahami materi pelajaran yang sedang dipelajari karena
media yang dibuat sesuai dengan lingkungan sekitar siswa dan konkrit. Alat peraga juga membantu
memacu keaktifan siswa di dalam kelas.
Produk yang dikembangkan oleh peneliti adalah alat peraga lingkungan sehat dan tidak sehat.
Alat peraga ini menggunakan model Borg & Gall yang terdiri dari 10 tahapan. Tahapan tersebut
terdiri dari (1) Identifikasi masalah, (2) Pengumpulan informasi, (3) Desain produk, (4)
Validasi desain, (5) Perbaikan desain, (6) Uji coba produk, (7) Revisi produk, (8) Uji coba
pemakaian, (9) Revisi produk tahap akhir, (10) Produksi massal. Seluruh tahapan pada model
Borg & Gall telah dilakukan oleh peneliti kecuali pada produksi massal. Alat peraga lingkungan
sehat dan tidak sehat ini berbentuk tiga dimensi yang dibuat menarik sesuai dengan karakteristik
anak SD dan lingkungan sekitarnya. Alat peraga lingkungan sehat dan tidak sehat ini dapat
membantu guru dan siswa dalam berinteraksi saat proses pembelajaran dan dapat membantu siswa
agar aktif di dalam kelas. Alat peraga ini dibuat sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi
dasar pada kelas 3 SD pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Pembelajaran alat peraga ini
8
menggunakan RPP sebagai pedoman pembelajaran. Identitas dari produk yang dikembangkan yaitu
alat peraga lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat adalah sebagai berikut.
a. Bentuk :Tiga dimensi.
b. Judul :Alat peraga lingkungan sehat dan tidak sehat.
c. Sasaran utama :Siswa kelas III SDN Jukong 2 Kec. Labang Bangkalan.
d. Nama pengembang :Ainur Rafiqah
Karakteristik dan analisis yang berhubungan dengan pengembangan produk pengembangan alat
peraga lingkungan sehat dan tidak sehat sebagai media pembelajaran kelas III adalah pohon yang
berbentuk tiga dimensi, boneka mainan, rumah bersih dan kotor, binatang dan tanaman mainan,
background lingkungan sehat dan tidak sehat, penyangga alat peraga, dan buku penggunaan media
pembelajaran.
Alat peraga ini memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Kelebihan dari media ini yaitu:
1) Alat peraga ini dapat memberi contoh mengenai lingkungan sehat dan tidak sehat dengan
konkrit yang disajikan dengan cerita yang dibuat dalam format audio.
2) Mempermudah interaksi antara guru dan siswa.
3) Membantu siswa untuk memahami pelajaran agar mudah dimengerti, sehingga siswa lebih
antusias dalam mengikuti pelajaran di dalam kelas dengan siswa dapat membongkar pasang
sendiri alat peraga.
4) Berdasarkan angket respon siswa, dapat dilhat bahwa alat peraga dapat meningkatkan motivasi
belajar siswa.
Selain alat peraga lingkungan sehat dan tidak sehat memiliki kelebihan, namun ada kekurangan
pada media ini yaitu siswa lebih terfokus untuk melihat media yang disajikan sehingga suara yang
berasal dari audio sedikit dihiraukan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa:
a. Persentase kelayakan media pembelajaran alat peraga lingkungan sehat dan tidak sehat
menurut ahli media yaitu 93,3% (sangat valid/efektif), menurut ahli desain pembelajaran yaitu
70,8% (cukup valid/efektif), menurut ahli materi mencapai 90%(sangat valid/efektif), menurut
ahli bahasa adalah 95,5% (sangat valid/efektif). Berdasarkan persentase yang diperoleh dari
tim ahli disimpulkan bahwa alat peraga layak digunakan pada pelajaran IPA kelas 3 SD materi
membedakan ciri-ciri lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat berdasarkan pengamatan.
b. Presentase kelayakan alat peraga dari responden yang dilakukan pada uji coba kelompok kecil
adalah 89,7% sedangkan dari responden yang dilakukan pada uji coba kelompok besar adalah
95,4%. Berdasarkan persentase yang diperoleh dari responden disimpulkan bahwa alat peraga
layak digunakan pada pelajaran IPA kelas 3 SD materi membedakan ciri-ciri lingkungan sehat
dan lingkungan tidak sehat berdasarkan pengamatan.
Saran pada bahasan ini yaitu saran pemanfaatan produk, saran desiminasi, dan saran
kelanjutan produk. Saran pemanfaatan produk alat peraga lingkungan sehat dan tidak sehat yang
diberikan oleh pengembang adalah:
a. Guru harus fokus saat memperagakan benda-benda pada alat peraga dengan menyesuaikan
pada cerita yang sedang diputar agar sesuai antara peragaan dan cerita.
b. Alat peraga lingkungan sehat dan tidak sehat dapat digunakan dengan model pembelajaran
yang berbeda.
9
c. Guru harus lebih kreatif untuk membangkitkan keaktifan siswa dengan pertanyaan-pertanyaan
menggunakan alat peraga.
Saran desiminasi produk alat peraga lingkungan sehat dan tidak sehat ini yaitu agar dapat
digunakan oleh sekolah dasar lainnya khususnya kelas III, serta dapat dimanfaatkan oleh seluruh
guru sekolah dasar sebagi alat bantu mengajar dalam proses pembelajaran. Untuk produksi massal
pengembang dapat memperbanyak media yang dibuat dengan bekerjasama dengan perusahaan
terkait.
Saran kelanjutan produk alat peraga lingkungan sehat dan tidak sehat yaitu:
a. Untuk diberi box atau wadah yang cukup agar penyangga dan benda-benda pada alat peraga
tiga dimensi berada pada satu tempat yang sama agar lebih mudah untuk dibawa.
b. Alat peraga ini bisa dicoba dengan menggunakan metode pembelajaran yang lain untuk
membandingkan hasil respon siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, Sa’dun. 2013. Instrumen Perangkat Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Arsyad, Azhar. 2014. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Emzir. 2015. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Hamalik, Oemar. 2013. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Pramesti., Indah Rosalina. 2013. Pengembangan Alat Peraga Kit Fluida Statis Sebagai Media
Pembelajaran Pada Sub Materi Fluida Statis di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Mojosari,
Mojokerto. Jurnal Inovasi Pedidikan Fisika, 02 (03): 70-74
Sadiman, Arief S., Rahardjo., Anung Haryono & Rahardjito. 2012. Media Pendidikan. Jakarta: PT.
Rajagrafindo Persada.
Umami, Siti. 2009. Pengaruh Media Pembelajaran VCD terhadap Prestasi Belajar Fiqih siswa.
Skripsi. Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATRYOSHKA BOX

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN KOTAK AJAIB